Artikel

Mewaspadai Fitnah Ruwaibidhoh dalam Dunia Pendidikan

Oleh : Ustadz Arif Fauzi, S. Pd.I, Lc *)

Beberapa hari terakhir ini kaum muslimin di Nusantara merasa terusik dengan munculnya disertasi yang memperbolehkan hubungan seks di luar nikah yang ditulis oleh Abdul Aziz, seorang mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul: “Konsep Milk Al Yamin: Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital.”

Saat dilakukan klarifikasi, penulis menjelaskan, “seorang lelaki diizinkan melakukan hubungan seksual dengan isteri-isterinya dan juga patner seksual selain isteri.” Penulis melanjutkan, “Di antara syaratnya adalah seorang perempuan tidak bersuami, adapun bagi seorang lelaki adalah bebas, lajang atau beristeri, dewasa, berakal sehat, tidak dilakukan secara zina (terbuka) tetapi di tempat tertutup, tidak dilakukan secara homo, tidak pula bersama ibu tiri ataupun bersama orang yang memiliki hubungan darah (mahram) serta atas dasar suka sama suka.”

Abdul Aziz menjelaskan, “Disertasi tersebut muncul dari kegelisahan dan keprihatinannya terhadap beragam kriminalisasi hubungan intim nonmarital konsensual. Yaitu, hubungan seksual di luar pernikahan yang dilandasi persetujuan atau kesepakatan. Hubungan di luar pernikahan selama ini mendapatkan stigma buruk. Misalnya, penggerebekan dan penangkapan sewenang-wenang di ruang-ruang privat.”

Ini adalah pernyataan yang batil, merusak dan mengundang murka Allah –subhanahu wa ta’ala, meskipun dikemas dalam karya atau bahasa yang ilmiah sekalipun. Dan tidaklah pernyataan ini keluar kecuali dari seorang yang jahil, pengikut hawa nafsu bukan wahyu dan penyebar syubhat. Dan inilah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi Wasallam-.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ
“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.” [HR. Ahmad dari Abu Barzah)

Karena sesungguhnya perbuatan zina telah dilarang tegas oleh Islam dan dijelaskan keharamannya melalui al-Qur’an, As-sunnah dan Ijma’ kaum muslimin. Selain itu, zina merupakan dosa yang sangat besar. Dan jauh lebih besar lagi dosanya jika seseorang menganggapnya halal, karena ia akan terjatuh ke dalam pintu kekufuran.
Allah –Subhanahu Wa Ta’ala– berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. [al-Isrâ/17:32]

Allah –Subhanahu Wa Ta’ala– berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” [al-Furqân/25: 68-69]

Dalam hadits, Nabi juga mengharamkan zina seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

“Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dosa apakah yang paling besar ?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah, padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: Kemudian apa ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab lagi, “Kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR Bukhori 4477).

Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– akan adanya fitnah-fitnah di akhir zaman yang menimpa umat ini berbarengan dengan kemunculan Ruwaibidhoh, yaitu “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] .

Hadits ini menjelaskan kepada kita akan bahayanya berbicara tanpa landasan ilmu. Dan Ilmu adalah ayat-ayat yang Allah firmankan dan Hadits-hadits yang Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– sabdakan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36).

Maka barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia hanya akan menyesatkan, menggelincirkan dan tidak mencerahkan. Dan tidak ada jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu kecuali dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad. * Cilongok, (2/9/2019)

*)Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Islam; Direktur PPM Zamzam Muhammadiyah Cilongok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *